Tak usah Google payah-payah dengan home-entertainment

Belakangan kecap-kecap lambe menyebutkan bahwa Google berencana membuat perangkat home-entertainment -- sama halnya dengan rumor soal iTV dari Apple. Perangkat ruang tamu ini bermerk Google pastinya, dan mungkin akan dikontrol melalui ponsel Android atau tablet, dan barangkali juga akan melebar lagi sebagai alat remot pengendali lampu atau pintu dapurmu. Itu terdengar sangat canggih.

Tapi itu tak akan bekerja. Pernah sekali Google main beginian dan kalah. Google TV, yang diluncurkan pada 2010, seperti kita ketahui, berakhir sebagai produk sampahan.

Setelah perangkat Google TV pertama -- yaitu Logitech Revue -- dirilis resmi, beberapa situs milik NBCUniversal, Viacom dan Fox memblokirnya, terutama Revue versi Chrome.

Ulasan soal Revue bermacam-macam. Sebagian membuat guyonan dengan menyebutnya "nonton TV kok lewat keyboard." Tapi bahkan seandainya perangkat itu sempurna, ia tidak berarti apa-apa.

Tanpa konten yang cocok, tidak akan ada alasan yang kuat untuk orang membeli sebuah perangkat. "Hockey puck" milik Apple TV juga tidak dibeli karena desainnya yang payah; di samping itu, sudah ada iTunes yang menyediakan film dan acara TV yang mereka inginkan.

Dari dulu, masalah Google adalah ini: terlalu fokus pada produk (baik hardware maupun software) dan tidak memikirkan kepentingan dan pengalam pengguna. Coba ingat-ingat ponsel pertama Nexus. Google percaya ia bisa jadi pelopor cara terbaru dalam jual-beli ponsel, dengan menawarkannya secara online dan bebas kontrak seharga Rp 5juta. Dan ternyata orang lebih memilih ponsel murah.

BACA JUGA: Twitter cocok untuk sebagian orang; Facebook untuk semua orang

Supaya produk ruang tamu milik Google ini berhasil, ia perlu menawarkan alasan edan (baca: konten) yang tidak bisa pelanggan dapatkan di Apple, Netflix, Amazon dan Hulu. Ya, memang sudah ada Youtube, tapi ia tidak memberikan siaran studio secara virtual; ia berupa tayangan keroyokan saja. Dan jika Google menawarkan Youtube di perangkat-perangkatnya, bagaimana nasib widget dan aplikasinya yang sudah banyak itu?

Jadi sebenarnya ini bukan persoalan apakah gadget Google menghubungkanmu dengan perangkat-perangkat lain, atau mengijinkanmu mengendalikan alat-alat dari ponselmu, atau mengubah TVmu jadi monster. Ini adalah soal kredibilitas dalam konten sebelum ia menyinari ruang tamumu.

Aku tahu, ini sudah tahun 2012, tapi tetap saja konten adalah raja. Maka jika Google tidak menge-depan-dan-tengah-kan itu, ia hanya jadi guyonan.

Kuijinkan kau mengutip beberapa paragraf atau keseluruhan dari artikel ini, asal kausebutkan kredit davologi.blogspot.com dan kauberikan tautan.

1 Response to "Tak usah Google payah-payah dengan home-entertainment"

wdcfawqafwef