Twitter cocok untuk sebagian orang; Facebook untuk semua orang

Akhirnya semua ini masuk akal bagiku.

Pada Jum'at ini setelah Maghrib, aku berada di Klayar, sebuah tempat di kecamatan Paciran, kabupaten Lamongan, bersama sepupuku untuk makan malam ketika tiba-tiba ia ingin mentwit makanan kami. Ia mengeluarkan iPhonenya, menjalankan aplikasi Twitter, dan mengeklik sana-sini, berusaha mengirim pesan baru di situ.

Dengan segera aku bertindak seolah-olah seorang ilmuwan dalam laboratorium dan mengamatinya duduk menguthek-uthek ponselnya. Aku tak menawari bantuan, meski jelas-jelas ia membutuhkannya.

Sepupuku agak gaptek sebenarnya. Ia memiliki perangkat modern karena ikut-ikutan saja: iPhone, laptop dan kamera digital. Seperti semua orang di keluarganya, ia adalah pengguna Facebook yang alim. Ia senang mengunggah foto-foto anaknya, dan menulis status secara rutin, seringkali melalui ponselnya.

Dan, seperti anggota keluarganya yang lain juga, ia tidak Twitteran sangat sering. Ketika aku tanya kenapa ia jarang menulis twit, jawab, "Twitter terlalu membingungkan."

Keluhan itu -- yang terutama sering kudengar dari orang-orang dalam bidang di luar teknologi -- terasa tidak masuk akal bagiku. Paling tidak, hingga saat ini.

Pada acara makan malam itu, aku menjelaskan bahwa tombol di sudut kanan atas dalam aplikasi Twitter berguna untuk menulis pesan baru. Ia menekannya. Lalu ia menulis, "Aku lagi makan malam dengan sepupuku..." dan kemudian ia berhenti.

"Gimana caranya menyisipkan namamu di Twitter?" ia bertanya padaku. "Apa dengan ketik @ terus spasi terus namamu?" Aku menjelaskan bahwa setelah tanda @, tidak boleh ada spasi, dan bahwa ia harus memakai usernameku, bukan namaku.

Di Facebook, ketika seseorang ingin menandai temannya, semisal sepupunya, ia cukup mengetik namanya, dan sistem algoritma memberikan lanjutan dari nama itu secara otomatis. Sebagai perbandingan, di Twitter, seseorang harus memahami tanda @, hashtag, dan simbol-simbol aneh lainnya. Keanehan-keanehan ini menjadikan Twitter sesuatu yang keren bagi beberapa orang, namun tidak bagi semua.

Melihat sepupuku mengotak-atik Twitter, aku sadar alasan kenapa jejaring sosial yang satu ini membingungkan bagi sebagian pengguna. Untukku yang berhadapan dengan simbol dan kode cukup sering saat ngeblog, tanda macam @ di Twitter ini bukanlah masalah besar. Namun untuk orang yang tak terbiasa, itu terasa mbulet. Otak kita tidak dipaksa untuk mbulet seperti ini di dunia nyata. Kenapa kita mbulet di dunia maya?

Sehari sebelum aku makan malam dengan sepupuku, Facebook menggelar konferensi di San Fransisco. Selama acara, pendiri Facebook Mark Zuckerberg mengatakan bahwa sebanyak 500 juta orang login ke Facebook setiap hari. Itu jumlah yang mencengangkan. Bahkan jika dibandingkan dengan Twitter, ia seperti piala dunia yang berdampingan dengan liga kecil.

Di awal bulan ini, Dick Costolo, pimpinan eksekutif Twitter, mengatakan bahwa perusahannya memiliki 100 juta pengguna aktif -- 50 juta orang menulis twit; 50 juta lainnya duduk dan nyimak.

Bagiku, Twitter alat informasi yang luar biasa. Aku menggunakannya secara khusu, meski seringkali aku membuka Facebook juga.

Ada beberapa alasan kenapa orang menyukai Facebook daripada Twitter. Di antara alasan tersebut ialah integrasi Facebook dengan banyak situs, fitur foto, news feed, hubungan dengan yang lain, dan banyak lagi.
Namun jika Twitter ingin tumbuh melampaui Facebook, ia harus mencoba berhenti berpikir dengan tanda @, dan mulai berpikir seperti sepupuku.

1 Response to "Twitter cocok untuk sebagian orang; Facebook untuk semua orang"

  1. Wowwww...., analisa yg simple dan menarik juga, walau sebenarnya twitterlah yang lebih simple dan ga mbulet dari fb. Ga usah perlu banyak - banyak bro yg pake twitter, saat ini jumlah pengguna twitter indonesia baru 19 juta saja kita sudah mendominasi 54% tweet di asia, apalagi kalo sama fb? hehehee...

    BTW, blog baru lagi nih? Sukses ya bro :)

    BalasHapus

wdcfawqafwef