Penipuan dengan kabar anak kecelakaan

foto Penipuan melalui kecelakaan anakPonsel Khulaima berdering pada sore itu. Ia beranjak dari dapur dan menuju kamar untuk mengangkatnya. Di ujung telepon, suara seorang pria, agak serak, muncul dengan bahasa formal dan nada yang rendah. Pria itu mengabarkan bahwa sebuah truk telah menabrak anaknya.

Khulaima, seperti ibu lainnya di desa Dengok di Lamongan, adalah orang tua tipe pesisir -- agak keras namun sensitif. Kabar tentang putranya yang kecelakaan membuatnya menangis dan panik, membiarkan masakannya gosong.

Ia bertanya di mana Miftakhul dirawat. Pria dalam telepon itu mengatakan anaknya baik-baik saja, namun perawatannya membutuhkan biaya, dan Khulaima harus mengirimkan bayaran rumah sakit melalui rekening.
Khulaima berusaha menelepon ponsel Miftakhul, tapi nomornya tidak aktif.

Sebelum ia berangkat untuk transfer uang, satu jam setelah telepon itu, seseorang mengucap salam di depan rumah. Dan suara salam itu adalah suara anaknya: Miftakhul.

Ia memeluknya. Tangisnya semakin keras, namun ia juga  terkejut dan takut. Sempat ia berpikir Miftakhul mati dan ia memeluk hantu.

BACA JUGA: Rasmunah di Blimbing, Paciran

Rumah Khulaima berada di Dengok, sebuah perkampungan nelayan di kecamatan Paciran, Jawa Timur. Jarak desa ini sekitar 60 kilometer dari Surabaya. Khulaima menceritakan kejadian penipuan telepon tersebut di rumahku sambil tertawa dan mengatakan, "Aku kok yo cek goblok temen!"

Khulaima beruntung ia belum mentransfer seuang pun.

Hal seperti itu hampir juga memperkorbankan aku beberapa bulan lalu. Kepada keparat di ujung telepon sana, aku menjawab: "Maaf, aku tidak punya anak seperti itu. Dan aku bahkan belum beristri. Aku tidak mau mentransfer, jadi biarlah orang itu tetap di rumah sakit dan mati."

Di Jawa Barat, tujuh orang penipu macam ini ditangkap kemarin siang. Rasyid, Usman, Andi, Ibrahim, Ahmad, Ebit dan Riki menggunakan laptop dan buku telepon untuk mendustai orang dengan kabar kecelakaan.

Mereka melakukan penipuan selama tiga tahun setengah. Kutaksir mereka raup ratusan juta rupiah dari ibu-ibu, hanya dengan modal telepon dan lambe.

Pada November tahun lalu, Fransiska Rompis, seorang pegawai sipil di Manado, terperdaya dengan tipuan serupa dan mentransfer 17 juta ke rekening orang tak dikenal. Ia panik setelah menerima kabar bahwa anaknya Joan Wangow kecelakaan di Gorontalo. Kabar tersebut, kata Fransiska, disampaikan seseorang yang mengaku Briptu Handoko.

Memakai dalih anak adalah salah salah siasat penipu. Jika kau ingat-ingat, tahun lalu modus "Mama minta pulsa" juga pernah laris, meski kini basi. Dengan memanfaatkan ikatan orang tua dan anak, penipu-penipu berhasil memberikan kepanikan dan syok sesaat. Tapi itu penipuan yang bodoh. Bukankah setiap orang belum tentu punya anak? Atau bagaimana dengan ibu Karmujah yang menerima kabar kecelakaan anaknya sementara si kacung lagi duduk di kakus sambil Facebookan?

Tentu saja kejadian-kejadian ini memberi pelajaran, terutama bagi Khulaima, agar ia membawa ponselnya saat masak di dapur -- paling tidak, supaya ikan itu tak gosong -- dan tak perlu terpesona pada pria dengan suara sebagaimanapun rendahnya.

0 Response to "Penipuan dengan kabar anak kecelakaan"

Posting Komentar

wdcfawqafwef