Permasalahan Google Plus bukan desain, tapi minat

Foto Masalah Google Plus desain dan minat burukDengan pengguna sebanyak 100 juta ekor, Google ngeyel bahwa jejaring sosialnya baik-baik saja. Tapi kepopuleran tersebut dipertanyakan banyak orang.

Penulis New York Times Nick Bilton berpendapat bahwa Google+ punya masalah dengan desainnya yang buruk. Dalam jejaring sosial lain macam Path dan Instagram, audience berjumlah cukup banyak dan semuanya aktif. Jejaring sosial tersebut memiliki tujuan yang lebih spesifik ketimbang Google: Visi dari Google, kau tentu tahu sendiri, adalah meniru gaya Facebook untuk mewadahi orang banyak dan menjejali mereka dengan kegiatan yang bermacam-macam.

Dan masalahnya: Tidak semua orang menginginkan hal itu. Sebuah statistik dari comScore juga menyebutkan bahwa pengguna Google+ menghabiskan hanya tiga menit secara rata-rata untuk membuka situs tersebut dalam sebulan ini. Itu menandakan bahwa tingkat penggunaan Google Plus jauh dibandingkan Facebook.

 Di Google Plus, jumlah pengguna mobile juga buruk; Google belum meluncurkan banyak aplikasi ponsel.

Google melihat Google+ sebagai identitas

Vic Gundotra, seorang eksekutif yang bertanggung jawab atas Google Plus, mengatakan bahwa dirinya tidak pernah melihat perkembangan yang begitu cepat. Dia berpikir bahwa Google senang dengan banyaknya penggunaan sejauh ini. Gundotra mengatakan, menurut statistik Google, ada lebih dari 50 juta orang yang menggunakan jejaring sosialnya setiap hari.

Itu terdengar mengesankan. Namun hey, tunggu dulu. Di antara jumlah besar itu, para pengguna tersebut adalah mereka yang masuk Google+  akibat layanan lain. Misalnya, jika kau login ke layanan Gmail, kau masuk otomatis ke Google Plus.

Gundotra mengatakan:
This is just the next version of Google. Everything is being upgraded. We already have users. We’re now upgrading them to what we consider Google 2.0.

Google melihat jejaring sosialnya semacam padepokan yang mengintegrasikan seluruh layanannya, seperti yang disebutkan Bradley Horowitz bahwa Google+ telah menjadi bagian dari segala hal. Dan visi tersebutlah yang membuat Google memasukkan Google plus ke dalam mesin pencari -- meski dengan begitu, sebenarnya ia dianggap mengkhianati pengguna karena pernah ia berjanji untuk seimbang dan seobyektif mungkin dalam urusan mesin pencari.

Jadi sekarang sudah jelas kenapa Google membuat jejaring sosial macam Google Plus. Salah satunya, tentu saja, karena Google+ menjadi gudang data bagi penggunanya, dan itu penting agar iklannya bisa tertargetkan. Sementara jejaring sosial tersebut mendapat tempat di hati beberapa kelompok macam fotografer dan tech blogger Robert Scoble, hanya ada sedikit dorongan lain yang menggiring orang untuk tinggal di Google Plus.

Tawaran apa di Google+ yang tidak ada dalam jejaring sosial lainnya?

Bilton berpendapat bahwa Instagram memperoleh banyak pengguna setia, dan Google+ menderita satu masalah, yakni desain yang buruk. Tapi aku merasa sebenarnya desain Google+ tak terlalu buruk; ia hanya tidak ramah terhadap ponsel. Di Opera Miniku, aku tidak bisa tag, dan link tak dapat terposting otomatis beserta kapsi dan deskripsi.

Untuk versi desktop, Google+ berfungsi secara mengesankan, terutama saat kita bandingkan ia dengan jejaring sosial lainnya yang serupa.

Memang benar desain dari Path dan Instagram cukup cemerlang. Mereka membuat aplikasi ponsel juga. Instagram, misalnya, lebih terfokus karena ia menekankan pada foto dan komentar. Fokus tersebutlah yang mengalahkan Google Plus. Google tidak memilih satu jalur dan sepertinya tidak akan pernah. Jadi jika aku ingin berbagi dengan komunitas yang lebih besar, aku punya Facebook.

Seperti apa yang dibantah oleh mantan orang Google dalam sebuah posting, permasalahan utama dalam Google+ itu sebenarnya tidak ada kecuali dari Google itu sendiri. Namun apakah memang banyak orang menikmati Google Plus? Ya, tentu saja. Beberapa orang menikmatinya, namun mereka tidak akan membutuhkan Google Plus sebesar mereka membutuhkan Facebook.

Bahkan setiap aku memakai Google Plus, aku merasa hanya seperti bersukarela. Aku belum merasakan apa yang kudapat.

Sampai Google mengubah persepsinya, jejaring sosial tersebut akan menjadi ejekan terus atau mungkin kuburan: ada banyak pengguna namun tak banyak kegiatan.

7 Responses to "Permasalahan Google Plus bukan desain, tapi minat"

  1. iya ni tentang google plus ini juga banyak yg menyayangkan peluncurannya.

    BalasHapus
  2. Topik yang menarik, mungkin banyak orang yang masih beradaptasi dan membandingkannya dengan fb, dan yah memang Google mesti belajar dari kegagalan produknya terdahulu (Google Buzz) supaya bisa menghadirkan sesuatu yang benar-benar baru dan wah.

    BalasHapus
  3. aku buat akun google + cuma sbg syarat ngerjain job di microworkers,hi hi hi,selain itu aku kurang berkesan..

    BalasHapus
  4. Google+ sekarang sudah seperti beberapa produk gagal google lainnya menurutku bro, kurang sekali peminatnya. Mulai dari Orkut, Google Buzz, Google Wave juga. Untuk Indonesia, mungkin Google+ kurang bisa menjaring pengguna setia karena banyak dari pengguna internet Indonesia yang agak kurang senang beradaptasi, teman - teman mereka di facebook juga jauh lebih banyak daripada Google+.

    Aku dulu agak aktif disana cuma sekitar sebulan, sekarang jauh lebih aktif di twitter itu saja. Karena twitter memungkinkan pertukaran informasi yang ringkas dan bermanfaat, ditambah kemampuannya untuk mengirim update ke Facebook sekaligus.

    BalasHapus
  5. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    BalasHapus
  6. Entah mengapa, setelah aku memakai Google+ kehidupanku berinternet berubah drastis.
    dulu, aku biasa-biasa saja dalam berinternet, cari ini-cari itu gak jelas tak terorganisasi.
    tapi setelah aku memakai Google+ aku bisa mengkoordinasikan kegiatanku di internet berkat fasilitas dari Google+
    yang tadinya aku hanya buka email doang di Google, kini konten punya Google aku maksimalkan. hasilnya, semua aku bisa organisir, dari Blog, Youtube, Music, Document, dan konten lainnya.
    secara tak langsung Google+ ku gunakan sebagai media catatanku secara privat.

    dan yang paling mengasyikan di Google+ bagiku adalah, aku bisa mendapat sahabat dunia maya, yang selama ini tidak pernah aku dapatkan di Sosial media lain. kami sering telponan, kopi darat, HO ngobrol asik kesana kemari. yang tentunya tidak pernah aku dapatkan dari sosmed lain.

    aku rasa, orang yg tidak memaksimalkan Google+ dan tidak mencoba lebih mengenal Google+, tidak akan pernah mendapatkan apa yg aku dapatkan.

    Bravo Google+

    BalasHapus
  7. saya punya facebook dan punya google plus..
    temen2 saya di facebook emang banyak tapi rata2 temen saya cuman ngrumpi, cerita kejadian2 yang gak penting, curhat, dan ga ada namanya pengetahuan ilmu yang bermanfaat di situ..
    kalau di google plus emang temen saya sedikit... kalau boleh di bilang sih teman yang kenal itu ga ada.. tapi dari situ saya baca2 ilmu pengetahuan seperti Nasa, Fotography, Pengetahuan Umum...
    dan Masih Banyak lagi... Mungkin orang yang seperti saya yang haus ilmu pengetahuan cocoknya di Google Plus...
    dan Mungkin bagi orang2 yang yang pengen curhat, nangis abis di putus pacar.. silahkan saja ke facebook.. disitu banyak orang yang seperjuangan...

    BalasHapus

wdcfawqafwef