Dokter yang memandang aku rendah

Andai ia bukan orang yang menyelamatkan adikku, pasti aku membunuhnya. Ia tak hanya datang telat tapi juga meremehkan pasiennya. Aku berpikir, rumah sakit di Indonesia, dan semua tukang medisnya, begitu semua -- mereka tidak melayanimu dengan baik kecuali kau memiliki cukup uang.

Dan sekarang, saat ia hendak masuk ke ruang operasi adikku, ia melempar senyum ke arahku, dan itu menyulut amarahku.

"Keparat," teriakku sambil mendekati dokter itu. "Bisa-bisanya kau mesam-mesem saat adikku hampir mati."

Mendengar suara lantangku, mungkin sebenarnya ia ketakutan dan menutupinya dengan tetap tersenyum. Ia merapikan baju operasinya dan berkata, "Saya minta maaf. Saya tidak di rumah sakit ketika saya terima panggilan operasi, dan saya berusaha datang secepat mungkin. Jadi sekarang saya mohon anda tenang. Saya akan lakukan tugas saya."

"Tenang katamu?" aku semakin meledak. "Bagaimana jika yang sakit ini adikmu, hah? Bagaimana jika dia anakmu? Bagaimana? Bagaimana perasaanmu jika anakmu mati?"

Dan lagi-lagi dengan angkuhnya, ia menyeringai dan berkata, "Jika itu anak saya dan jika ia mati, saya cukup mengatakan apa yang Qur'an ajarkan: Innalillahi wainnailaihi raji'un."

"Mudah kau mengatakan itu karena kau tak mengalaminya," kataku.

Aku kembali duduk di ruang tunggu setelah dokter itu menutup kamar operasi. Perasaan marah, sedih dan cemas berkecamuk di pikiranku.

Adikku Arul Chandrana, yang hanya setahun lebih muda dariku, menderita penyakit krobok, sebuah kanker paling berbahaya yang menyebabkan disfungsi saraf otak. Sangat sedikit dari pengidap penyakit ini bisa selamat.

Satu jam berlalu, dan aku makin khawatir. Bagaimana jika dokter sombong itu sakit hati dengan kata-kataku dan melampiaskannya kepada adikku? Di ruang operasi, bisa saja dia menyengaja membredel organ kepala pasiennya, lalu mengatakan bahwa operasinya gagal.

Ah, aku musnahkan pikiran itu. Aku pasrah. Kehidupan dan kematian berada di tangan Tuhan.

Setelah hampir dua jam, dokter itu keluar, lagi-lagi dengan senyum kecutnya yang keparat itu. Aku menduga orang ini menderita gangguan jiwa yang membuatnya tak bisa berhenti tersenyum.

"Selamat, operasinya berhasil. Jika anda punya pertanyaan, silakan tanya ke suster saja," ia berkata dan langsung pergi, bahkan tanpa memberi kesempatan aku bicara.

"Kenapa ia angkuh sekali? Bahkan ia enggan menunggu barang semenit untuk kutanyai tentang keadaan adikku," komentarku pada dokter itu saat seorang suster keluar dari ruang operasi.

Aku melihat suster itu berdiri diam menatapku, dan matanya membasah. Sambil air matanya menetes, ia berkata, "Anak dokter itu meninggal kemarin karena kecelakaan. Ia sedang mengikuti penguburan anaknya saat kami memanggil dia untuk mengoperasi adik anda. Dan karena sekarang operasinya tuntas, ia harus kembali menyelesaikan penguburan."

3 Responses to "Dokter yang memandang aku rendah"

  1. Penutup yang manis Mas..Yah, walau ini cuma fiksi, setiap orang punya alasan mengapa bersikap sesuatu ya...

    BalasHapus
  2. menyentuh
    Pelajaran bahwa tak seharusnya menilai orang dari luar saja

    Dan saya salut
    Anda blogger sejati

    BalasHapus

wdcfawqafwef