Bekicot

Pikiran-pikiran berikut menggelisahkanku di masa kanak-kanak, dan tidak semestinya ia dipikirkan:

Katanya, atas dosa tertentu, surga menolakmu dan kau tak pernah masuk ke dalamnya. Katanya lagi, pastilah engkau ke surga asal kau percaya, tak peduli sebanyak apa kesalahanmu. Katanya engkau dijamin ampun, selama engkau beriman, sebesar apapun dosamu, sebab Dia maha pengampun; katanya juga, karena sebuah dosa, kau tak terampuni selamanya. Katanya setiap tindakanmu, yang baik maupun buruk, sekecil debu pun, dihitung tanpa luput; katanya pula, atas perbuatan terpujimu, tindakan burukmu dilupakan, dihapus, tanpa perhitungan.

Saat kanak-kanak, aku menatap laut dan menyaksikan awan menyentuh ujung horison. Aku berpikir, jika aku melayari samudera dan tiba di titik itu, aku menabrak langit.

Semua pikiran itu menggangguku. Kini aku sadar aku makan bekicot terlalu banyak waktu kecil. Bekicot mengandung 12 hingga 20% protein.

Ibuku masak dengan kayu. Lebih sedap, katanya. Dan lebih murah. Belum ada elpiji saat itu. Ke manapun aku pergi dan berjumpa bekicot, entah di lorong gang atau pohon pisang, aku ambil. Aku panggang bekicot di tungku perapian sambil ibu masak nasi atau goreng ikan. Kautahu, rasanya lezat. Begitulah setiap hari.

Aku temukan sedikitnya dua bekicot sehari. Itu sama dengan mengasupi dua kali protein.

Protein membaguskan banyak hal di tubuhmu. Ia membaguskan sel dan jaringan yang rusak, membaguskan pertumbuhan serat ototmu dan perkembangan otakmu.

Setelah aku dewasa kini, aku rindu memakannya, rindu kebiasaan lama. Dulu aku makan bekicot; sekarang akan kumakan lagi.

2 Responses to "Bekicot"

  1. bekicot emang lambat tapi berani mengambil proses. Tidak terburu-buru dalam mengambil keputusan.

    BalasHapus
  2. emang ada bbrp manfaat dr bekicot,,,katanya utk penderita jantung lemah.

    BalasHapus

wdcfawqafwef