'300: Rise of an Empire' lebih brutal dari film pertama

Darah bercucuran. Pedang menyambar lengan, menusuk perut dan menebas kepala.  Di atas kapal kayu yang runtuh, panah meluncur, menuju  pria kekar Atena, menembus dadanya. Mati. Banyak adegan macam ini akan kaulihat jika kau menonton “300: Rise of an Empire,” film aksi produksi Amerika yang rilis dua pekan lalu.

Daftar isi (klik untuk loncat)
  1. Cerita
  2. Trailer
  3. Pembuatan
  4. Darah dan kebrutalan
  5. Pemain
  6. Adegan seks
  7. Kecocokan sejarah
  8. Petikan terbaik

“300: Rise of an Empire” menyajikan tayangan visual yang mengagumkan dan cerita apik tentang Pertempuran Salamis.  Diadaptasi dari novel grafis oleh Frank Miller yang berjudul Xerxes, film ini menampilkan perang sengit yang terjadi sebagian besar di lautan, di atas kapal-kapal kayu raksasa yang digerakkan tenaga manusia.

Download 300: Rise of an Empire Sparta
Poster resmi film "300: Rise of an Empire"

Cerita

“300: Rise of an Empire” bercerita tentang perjuangan jenderal Themistocles dalam memersatukan Yunani untuk melawan serangan Persia. Raja Persia yang setengah dewa, Xerxes, berniat menguasai seluruh Yunani atas provokasi komandan Artemisia, perempuan yang diadopsi oleh ayahnya. Artemisia orang Yunani yang berjiwa Persia. Saat kecil ia dibuang dan diperbudak di tanahnya dan menyaksikan ibunya diperkosa dan dibunuh di depan matanya. Ayah Xerxes, Raja Darius, dipanah mati oleh jenderal Themistocles, dan Artemisia ingin Xerxes membalas dendam kematian itu.

Jika kau menonton film 300, yang bercerita tentang prajurit gagah Spartan melawan ratusan ribu pasukan Persia, maka film ini adalah sikuel dari yang kautonton itu. Cerita film terjadi sebelum, selama dan sesudah peristiwa dalam 300, di mana raja Leonidas dan prajuritnya tewas oleh panah pasukan Persia.

Trailer

Akun resmi Warner Bros Picture menerbitkan video trailer di Youtube. “Bangsa Sparta akan tumbang,” kata Ratu Gorgo dalam narasi trailer tersebut. “Seluruh Yunani akan tumbang. Dan api Persia akan membakar bangsa Atena hingga ke abu-abunya. Sebab Atena hanyalah tumpukan batu dan kayu dan kain dan debu. Dan, sebagai debu, ia akan musnah terbawa angin.”



Pembuatan

Berbeda dengan pendahulunya, “300: Rise of an Empire” disutradarai Noam Murro sementara Zack Snyder, yang menyutradari film pertama, bertindak sebagai produser. Pembuatan film dimulai sejak 2008, setahun setelah peluncuran 300, dan memakan dana $110 juta.

Sebelum akhirnya rilis awal tahun ini, ia mengalami pergantian judul—salah satunya 300: Battle of Artemisium, yang disalah artikan oleh banyak orang sebagai The Battle of Artemisia. Judul diubah menjadi 300: Rise of an Empire pada September 2012. Film ini diumumkan untuk luncur tahun 2013 dan molor hingga 7 Maret 2014.

behind the scene film dan di balik layar 300 Rise of an Empire
Sullivan Stapelton, pemain utama, melakukan adegan di ruang blue screen.

Darah dan kebrutalan

Pastikan selama menonton film ini kau tidak mengajak anakmu, adikmu yang kecil atau tetanggamu yang masih sekolah dasar. Banyak adegan mempertontonkan darah dan kekerasan yang tidak patut ditonton anak-anak. Leher disembelih. Kepala ditebas. Perut dirobek. Kaki ditebang, lepas.

Cipratan darah ditampilkan sangat menonjol dalam adegan lambat, terima kasih pada teknologi CGI yang memungkinkan itu. Separuh lebih dari film ini berisi pertempuran. Sedikit sekali bacot. Ia menyuguhimu cara tempur brutal ala Yunani, dengan pria-pria berotot yang membawa perisai, helm moncong dan tombak.

Memang tidak semua prajurit--yang tampil terutama sebagai pasukan Atena--memiliki badan kekar macam 300 Spartans. Tapi satu hal yang pasti: Mereka brutal.

Pemain

Sullivan Stapelton memainkan peran utama sebagai Themistocles, jenderal Atena yang melakukan segala cara untuk membuat Yunani bersatu demi melawan Persia. Komandan Artemisia diperankan oleh aktris Prancis Eva Green. Sementara Xerxes, sama seperti film 300, dimainkan oleh Rodrigo Santoro, aktor berkebangsaan Brazil.

Di antara tokoh-tokoh lain adalah:

Lena Headey sebagai Ratu Gorgo
Jack O'Connell sebaga Calisto
Hans Matheson sebagai Aeschylus
Callan Mulvey sebagai Scyllias
David Wenham sebagai Dilios
Andrew Tiernan sebagai Si Cacat
Yigal Naor sebagai Raja Darius I
Andrew Pleavin sebagai Daxos
Ben Turner sebagai Jenderal Artaphernes
Ashraf Barhom sebagai Jenderal Bandari
Christopher Sciueref sebagai Jenderal Kashani
Peter Mensah sebagai pelatih Artemisia/utusan Persian
Gerard Butler sebagai Raja Leonidas(flashback)
Michael Fassbender sebagai Stelios (flashback)

Adegan seks

Ketika komandan Artemisia memerintah anak buahnya untuk memanggil Themistocles, ia merencanakan sesuatu: mengajak dia bergabung dan dengan demikian mengganjar kemerdekaan bagi Themistocles dan bangsanya. Selama tawaran berlangsung, mereka terbawa dalam seks kasar yang melibatkan jambakan, cekikan dan pukulan. Temanku Bio Ahmed menyebut adegan ini “rundingan dengan kekerasan.”

Adegan tersebut digambarkan oleh Eva Green sebagai seks ekstrim. Saat itu Artemisia terkagum oleh musuhnya, Themistocles, dan ingin memilikinya karena bagi Artemisia ia musuh yang tangguh dan akan menciptakan kolaborasi yang ampuh untuk menguasai dunia seandainya ia menjadi pasangannya. “Hubungan seks mereka,” kata Green, “mengandung nuansa cinta sekaligus permusuhan. Itu bukan seks lezat rasa vanila.”

Para kritikus mengomentari bahwa adegan ini tidak perlu dan tidak menyumbang apapun bagi alur cerita dalam film.

Scene panas dan hot antara Themistocles atau Sullivan Stapelton dengan Artemisia atau Artimisia yang diperankan Eva Greem
Adegan panas oleh Themistocles (Sullivan) dan Artemisia (Green) dalam perundingan paling sensual di dunia.

Kecocokan sejarah

Menurut Paul Cartledge, seorang profesor budaya Yunani di Cambridge University, seperti kukutip dari Wikipedia, film ini memuat beberapa kesalahan sejarah, misalnya soal Raja Darius. Ia tidak mati seperti yang diceritakan dalam film dan tidak pernah ikut langsung dalam perang. Komandan Artemisia, dalam sejarah yang sesungguhnya, menolak untuk menggempur dengan kapal dan ia tidak tewas dalam pertempuran. Sementara bangsa Sparta menyumbang hanya 16 kapal perang dalam pertempuran akhir.

Petikan terbaik

Themistocles: Lebih baik kita mati di atas kapal daripada mati dalam keadaan bersujud.

Ketika Artemisia akan menggempur Yunani, Xerxes mencegah.

Xerxes: Aku rajamu.
Artemisia: Jangan lupa siapa yang memasang mahkota di kepala cengengmu. Akan kukerahkan kapalku melawan Themistocles. Duduklah saja dan tonton dari singgasana emasmu, dan nikmati pertunjukannnya di tempat aman yang kusediakan.

Secara keseluruhan, aku melihat film ini bagus dalam seni visual, menawan dalam koreografi dan pertempuran, tapi lebih membosankan saat kau membandingkannya dengan 300 pertama. Tidak aku temukan kobaran perang dan semangat prajurit seperti yang aku peroleh di film sebelumnya, namun beberapa orang menganggap justru itu yang membuat film “300: Rise of an Empire” nyata--tak ada lakon mandraguna layaknya komik. Ia layak kautonton jika adegan pertempuran dan pembunuhan sadis adalah yang kaucari.

Penulis: David Khoirul

Mengutip artikel ini diperbolehkan selama menyebut davologi.blogspot.com

Ikuti Davologi di Facebook

0 Response to "'300: Rise of an Empire' lebih brutal dari film pertama"

Posting Komentar

wdcfawqafwef