Indonesia keranjingan jejaring sosial

Dulu kita mengenal Indonesia sebagai negara gemah ripah loh jinawi, tempat di mana kita menikmati padi dan sawah dan pemandangan yang asri. Indonesia tidak sekadar itu. Kini ia sarang bagi jejaring sosial dunia, dan saya berpikir ini adalah warisan dari tradisi majapahit--rakyat kita gandrung sekali dengan budaya anut-gruduk, patuh tunduk, sehingga kita tumbuh sebagai manusia yang gampang menyerap pengaruh apa saja dari luar.

Seperti yang kita lihat, jejaring sosial macam Facebook, Twitter dan Instagram menyebar sangat pesat dan begitu subur di nusantara. Bahkan beberapa orang mengira warnet berisi Facebook saja.

Dengan perilaku berinternet seperti itu, kita tergolong bangsa yang keranjingan jejaring sosial.

Berikut statistik yang kukutip dari situs OnDevice



Sebanyak 7,5% dari seluruh tweet di dunia berasal dari Indonesia. Bayangkan, bumi ini menampung ratusan negara dengan milyaran manusia dan Indonesia menempati persentase sebanyak itu hanya untuk berkicau di Twitter.

Berikut rincian dari statistik tersebut
  • Jakarta kota paling aktif untuk urusan Twitter
  • 7,5% tweet di seluruh dunia berasal dari Indonesia, menjadikan ia negara urutan ketiga yang keranjingan Twitter
  • Sebanyak 92,9% dari rakyat Indonesia menggunakan Facebook
  • 75% pengguna Facebook di Indonesia online dari hape.
Cobalah periksa sendiri di kanan-kiri. Aku yakin hampir semua tetanggamu Facebookan, dari ibu-ibu hingga tukang becak, dari buyut-buyut hingga anak-anak.

Jual-beli online adalah keranjingan kedua

Selain kesurupan jejaring sosial, kita tidak canggung bertransaksi online--mungkin karena makin mudahnya akses internet di nusantara. Setiap orang memiliki perangkat macam smartphone, tablet dan laptop untuk jelajah online di manapun mereka mau dan untuk menemukan apa saja yang mereka butuhkan.

Dan akhirnya saya ikut-ikutan. Sudah dua kali saya beli barang online, barang-barang yang tidak bisa saya menemukannya di kampung. Barang tiba dengan selamat, untungnnya. Tapi itu tidak berarti saya mengandalkan pasar online tiap kali mau belanja. Secara keseluruhan, forum dan situs jual beli online mulai diterima. Banyak teman saya mempromosikan barang dari BBM, Whatsapp dan Facebook dan menerima pesanan dari sana.




Umumnya transaksi online di Indonesia dilakukan melalui rekening bank. Orang Indonesia belum menaruh kepercayaan untuk membayar dengan sistem online, misalnya, lewat paypal dan layanan sejenisnya.

Apakah kau berbelanja online juga sepertiku?

Mengutip artikel ini diperbolehkan dan tidak butuh izin dari saya asalkan kausebutkan sumber davologi.blogspot.com

4 Responses to "Indonesia keranjingan jejaring sosial"

  1. Saya juga ikut-ikutan anut gruduk, sampai ada yang mengatai saya latah :D
    Saya juga heran, dulu saya bisa hidup tanpa facebook, tapi kok sekarang nggak bisa ya?
    -_-

    BalasHapus
  2. Onile sekarang kebutuhan pokok, sama sepertii makan dan tidur.

    BalasHapus
  3. apakah ini sebuah kemajuan ataukan kemunduran bangsa pada akhirnya, bang David?

    BalasHapus
  4. Ini kemajuan bagi perkembangan jejaring sosial Indonesia tapi kemunduran bagi kehidupan internet kita. Apakah mereka pikir internet hanya berisi Twitter?

    BalasHapus

wdcfawqafwef