Dukun tak bisa tembus teknologi

Aku menyimpan dugaan kuat bahwa kelak dukun tidak dibutuhkan dalam kehidupan. Manusia berkembang semakin rasional dan menjauhi perkara-perkara yang tak sejalan dengan akal. Segala sesuatu, pada nantinya, membutuhkan penjelasan yang logis. Tanpa hal itu, manusia menganggapnya hanya sebagai fiksi dan tak akan pernah mempercayainya.

Teknologi menandai pergeseran pola pikir manusia secara besar-besaran. Di zaman kita, kerabat, saudara dan orang tua tidak mengedepankan lagi jamu sawan untuk mengobati trauma atau jampi-jampi utuk menyembuhkan meriang. Kita bertindak makin logis dan menjauhi upaya-upaya irasional tersebut.

Daftar isi:
  1. Pendekatan orang Indonesia
  2. Orang makin rasional
  3. Dukun tidak sanggup melakukan SEO
  4. Kepunahan dukun

Pendekatan orang Indonesia

Gambar oleh Wikipedia
Pada dasarnya orang Indonesia melakukan dua pendekatan dalam segala perkara di kehidupannya: pendekatan spiritual dan rasional. Kau melihat pendekatan rasional saat kaubawa istrimu ke puskesmas karena tipes atau saat kautuntun sepedamu ke SPBU karena kehabisan bensin. Kau mencari solusi-solusi logis yang menjelaskan bahwa jika sesuatu begini, itu tentu disebabkan begini, sesuai dengan hukum alam.  Pendekatan ini berbunyi: Jika perutmu sakit, pasti itu karena bakso pedas yang kaumakan semalam.

Namun ketika pikiran buntu, selain kepada pendekatan logis tersebut, orang Indonesia berlari kepada solusi irasional, kepada hal-hal yang tidak masuk akal.  Mereka pasang kertas bertuliskan skrip dan simbol ajaib yang dibungkus kain dan diletakkan di setiap dagangan supaya usahanya laris. Atau mereka tiup tempat duduk perempuan yang ditaksirnya agar wanita itu klepek-klepek dan membayang-bayangkan wajah dirinya di rumah. Prinsip pendekatan spiritual berbunyi: Jika perutmu sakit, pasti itu karena Wagiman mengirim santet.

Orang makin rasional

Teknologi adalah bajingan yang menghapus ketidakrasionalan itu. Perlahan-lahan, tanpa kita sadari, orang lupa sisi ghaib dari sebuah peristiwa. Dahulu ketika orang mendapati uangnya hilang di lemari, ia menuduh tuyul sebagai malingnya. Sekarang tak seorang pun mendakwa si gundul itu saat ia mengetahui berkasnya hilang di flashdisk, seolah-olah badan tuyul terlalu besar untuk menelusup ke situ dan pasti terjepit.

Dahulu ketika ayahmu kehilangan kendali atas badannya sehingga ia bergerak sendiri di luar kontrol, kau beranggapan itu adalah kiriman jin Mbah Sugiman yang dimasukkan ke raganya melalui boneka. Sekarang saat Facebookmu berganti password sendiri dan beroperasi di luar kendalimu, kau menyalahkan hacker sebagai kambing hitamnya. Kenapa tidak jin mbah Sugiman?

Kita dituntut berpikir rasional sebelum menyimpulkan kemungkinan lain di zaman teknologi ini. Aku mencurigai bahwa tuyul-tuyul tidak tahu cara menjalankan modem sehingga ia tak pernah berhasil mencuri rekening bank online seseorang. Bukankah itu cara yang ringkas ketimbang menggondol uang secara manual dari lemari? Apalagi dunia maya tergolong alam halus, bukan alam kasar seperti yang kita tinggali ini. Tuyul dan genderuwo, yang adalah mahluk halus, semestinya masuk dengan mudah ke alam itu dan beraktifitas lebih banyak ketimbang di alam nyata. Ataukah jin mbah Sugiman belum kursus komputer dan belum belajar cara membuat akun Facebook?

Dukun tak sanggup melakukan SEO

Aku menulis artikel ini sekaligus untuk menantang para dukun melakukan Search Engine Optimization (SEO) atau Pengoptimalan Mesin Pencari dengan metode spiritual yang mereka percaya ampuh. SEO itu begini: Kau memasang kata kunci, misalnya “Facebook,” dan membaguskan kata kunci itu sebaik mungkin agar ketika orang mengetik “Facebook” di Google, situsmu tampil di hasil pencarian. Aku menjamin 100% tiada satu pun upaya spiritual yang bisa membobol ini. Jika engkau dukun dan sedang membaca tulisan ini dan ingin menyanggupi tantanganku, buatlah kata kunci Facebook mengarah ke DAVOLOGI.blogspot.com pada halaman satu, peringkat satu, di Google.com.

Dalam lomba SEO, aku percaya, tidak sekontestan pun mendukunkan kata kuncinya. SEO, Facebook, perangkat lunak dan segala yang berurusan dengan komputer belum bisa ditembus oleh para penyihir yang kau dengar dari dongeng-dongeng sebelum tidur atau dari caleg-caleg yang sekarang stress.

Temanku Arul Chandrana menceritakan kisah dukun komputer Eropa yang ia peroleh saat membaca Liberty, majalah misteri yang dipenuhi gambar cewek-cewek seksi. Di Eropa, jika komputermu rusak dan kau kerepotan memperbaikinya atau telah menyerahkan tugas reparasi ke tukang servis dan tak kunjung berhasil, kau bisa melemparkan tugas itu ke dukun. Dukun komputer akan melakukan ritual khusus, dengan salib dan mantra-mantra agar komputermu sembuh. Tapi setelah aku verifikasi cerita itu di Internet, aku belum menemukan satu rujukan pun.

Kepunahan dukun

Kelak suatu saat akan ada masa di mana dukun tidak dipakai sama sekali. Kita semua akan menjalani hidup yang serba logis dan penuh penjelasan. Kehidupan akan dzolim di masa depan, dengan pengingkaran-pengingkaran terhadap semua yang irasional—termasuk pengingkaran terhadap kekutan agama dan Tuhan.

Namun selain itu, kita berterima kasih pada dukun karena mereka menginspirasi banyak temuan canggih yang saat ini kita nikmati. Dari telepati, dukun mengilhami Graham Bell menemukan telepon. Dengan penerawangan, paranormal membuka jalan saintis menciptakan 3G dan video call serta televisi. Dengan raga sukma, kita memiliki teknologi internet untuk menjelajah ke mana saja di belahan dunia. Dan lewat teknologi itu pula, artikel ini ditulis.

Mengopi artikel ini diperbolehkan asal menyebut sumber davologi.blogspot.com

1 Response to "Dukun tak bisa tembus teknologi"

  1. jgn terlalu rasional lah.. nanti org2 bisa meninggalkan agama.. krna agama itu landasannya iman, bukan logika yg terus berubah sesuai jaman

    BalasHapus

wdcfawqafwef