Tentang bahasa Davologi

Tulisan ini, bila perlu, akan muncul di halaman depan sebagai sticky post, atau posting tetap yang kaulihat setiap kali membuka homepage Davologi. Ia terdorong oleh komentar Facebook dari Ratih, seorang pengguna MyWapBlog, yang mengatakan bahwa gaya menulis Davologi terkesan seperti hasil terjemahan.

Ketimbang menjelaskan panjang di kotak komentar Facebook yang tenggelam pada nantinya oleh tulisan lain, aku tuliskan saja sebagai posting blog agar lebih banyak orang membacanya.

Daftar isi (klik untuk loncat)
  1. Gaya bahasa berbeda
  2. Terdengar seperti terjemahan
  3. Penggunaan kau
  4. Ejaan tak baku
  5. Kejelasan
  6. Terdengar sombong

Gaya bahasa berbeda

Gambar oleh situs Editor
Setiap penulis memiliki suara, ciri yang membuat ia dikenali. Seperti halnya menyanyi, semakin berbeda suaramu, semakin disukai. Indonesian Idol tidak menginginkan seorang penyanyi dengan suara Kris Dayanti. Sudah ada. Menulis pun demikian. Banyak blogger, terutama yang non-penulis, beranggapan bahwa dengan suara yang berbeda, tulisan seseorang dinilai aneh.

Aku berpikir, apakah itu berarti tulisan lumrah adalah yang Indonesiawi, dengan penggunaan lo, gue, nyak, babe dan terus guwe harus bilang wow gitu. Sebagian besar blogger Indonesia mengira bahwa ngeblog itu bukan urusan menulis. Ngeblog, bagi mereka, adalah bersilaturrahmi sehingga mereka meloncat dari blog ke blog dan bertukar komentar dengan satu sama lain. Posting dan karya mereka pekerjaan sampingan saja, sekadar pengisi halaman.

Blogger seperti ini tidak mengembangkan kecakapan menulis. Dan dengan demikian, mereka mengamalkan gaya bahasa lisan dalam tulisan, gaya bahasa simplistik—bukan dalam kesan positif, namun konotasi dangkal.

Setiap hari makin banyak posting blog yang tak berisi apa-apa kecuali silakan download ini, silakan comot itu, silakan lihat daftar lagu berikut, dan seterusnya. Blogger-blogger tersebut tidak menulis. Mereka menempel sesuatu dan membukanya dengan Assalamualaikum, seolah itu posting paling syar’i yang membawanya ke surga kelak jika ia sudah mati.

Terdengar seperti terjemahan

Aku membaca tulisan bahasa Inggris lebih sering ketimbang bahasa Indonesia. Jika sekarang aku menulis di Davologi dalam bahasa Indonesia, itu karena aku ingin mengetahui seberapa baik aku menyampaikan gagasan dalam bahasa tanah air.

Untuk mengikuti berita nasional saja, aku mengunjungi thejakartapost.com atau thejakartaglobe.com, dua media bahasa Inggris terbesar di Indonesia. Itu bukan berarti aku membenci bahasa pribumi—satu blogku bahkan aku tulis dalam bahasa Jawa. Aku menyukai bahasa secara keseluruhan; aku hanya muak dengan mutu berita yang ditulis di negeri ini. Ini tak hanya soal konten yang diplintir tapi juga soal bagaimana mereka menulis berita.

Dengan bacaan dan tontonan yang 90% bahasa Inggris, aku memungut banyak pengaruh dari bahasa tersebut dan mengembangkan style sendiri dalam menulis bahasa Indonesia. Aku senang jika posting Davologi disangka terjemahan karena dengan begitu aku lepas dari tulisan ala Indonesia pada umumnya.

Pada 2005, aku belajar bahasa Inggris di sebuah perguruan tinggi di Tuban, Jawa Timur. Aku diwajibkan banyak membaca dan menulis Inggris, bahasa yang aku nyaman dengannya sampai sekarang. “Apa yang kaubaca,” kata kutipan bijak, “mempengaruhi bagaimana engkau menulis.”

Penggunaan kau

Teman bloggerku Jhony Ahmad bertanya suatu hari kenapa aku memakai kata ganti “kau,” yang terdengar kasar dalam bahasa Indonesia. Aku jawab: Karena ia ringkas.

Seandainya lo—kata ganti dalam bahasa Betawi dan Indonesia informal—tidak dianggap prokem, kupakai kata itu. Aku menyukai segala yang ringkas. Tulisan yang aku kagumi adalah karya-karya ringkas, tulisan yang tidak mengubur dirinya dalam kata-kata besar dan kalimat-kalimat njlimet dan panjang dan meliuk seperti ular.

Anggapan bahwa kata “kau” kasar tidak selamanya benar. Tuhan kita, dalam kitab suci dan doa, dipanggil dengan kata ganti Kau atau Engkau. Jika kita ingin menghormati Tuhan sebagai pencipta alam, kenapa tidak kita pilih kata ganti yang lebih sopan, misalnya Anda? Bahasa Jawa menerapkan kesopanan itu dengan menyebut Tuhan sebagai Panjenengan atau Sampeyan.

Menulis dengan "kau" menghemat lebih banyak kata, sesuatu yang selalu ingin aku capai setiap kali berurusan dengan keterampilan ini. Kalimat “Kamu mencium dia,” kalau aku yang menulis, berbunyi “Kaucium dia.” Dua suku kata terpangkas dan makna tak berubah. Lebih irit, bukan?

Ejaan tak baku

Gambar oleh OX2
Benar sekali: Aku keranjingan tata bahasa Inggris. Seringkali ejaan dan tanda baca dalam posting-postingku tidak sesuai dengan bahasa Indonesia yang baik, yang dicontohkan dalam siaran TVRI. Belum ada alasan yang masuk akal bagiku untuk membuat huruf kapital A pada kata anda.

Masih banyak lagi kesalahan eja yang kubuat dalam bahasa Indonesia, baik karena aku sengaja membuat salah maupun karena aku tidak tahu ejaan yang benar. Dan boleh kausebut itu sebagai ketidakpecusanku dalam berbahasa Indonesia atau sebagai gayaku dalam menulis—aku tak peduli.

Kejelasan

Dalam proses editing, salah satu ceklisku adalah memeriksa kejelasan. Aku mengutamakan kegamblangan dalam berbahasa ketimbang keindahannya, dan aku rasa itu alasan kenapa aku gagal mengkhatamkan novel hingga sekarang.

Tulisan-tulisan dalam blog ini mementingkan kejelasan ketimbang pemakain kata-kata teknis yang tinggi. Sekali waktu, bila itu diperlukan, aku memanfaatkan padanan bahasa Indonesia untuk istilah-istilah sederhana dalam bahasa Inggris. Jangan heran jika di blog ini kau mendapati kata mengunduh ketimbang download dan surat elektronik ketimbang email.

Tulisan gamblang itu ringkas, menyampaikan gagasan dengan cara yang sederhana namun berbobot. Melakukan hal itu, aku pikir, adalah perkara yang paling susah.

Terdengar sombong

Teman Batak Jarar Siahaan mengatakan, “Aku lebih senang pada orang yang terkesan sombong namun apa danya ketimbang mereka yang sok rendah hati namun busuk di belakang.”

Aku memaklumi tuduhan sombong. Mereka memandang aku sombong karena dalam menulis blog, aku menggunakan kata ganti orang pertama dan kedua, ya, seperti ini. Pemakaian kata "aku" dan "kau" mengisyaratkan bahwa aku berbicara langsung pada pembaca. Dan itu sombong. Tapi bukankah penyaji yang baik akan berinteraksi dengan audiensnya secara langsung? Kejenuhanku pada bahasa Indonesia adalah begini: Ia mengandung banyak kata alternatif seperti kamu, anda, kau dan engkau tapi miskin kerapian dan tatanan. Bahasa Inggris menyampaikan itu dengan sangat langsung melalui kata you.

Lebih dari semua itu, aku merasa puas saat seseorang memandang gaya menulisku aneh. Para pembacaku, dengan begitu, mengenal seketika bahwa ini karyaku. Suatu hari jika kau menjumpai di blog orang lain sebuah artikel yang bersuara seperti ini, kau tahu siapa pemilik artikel itu.

Selamat pagi.

2 Responses to "Tentang bahasa Davologi"

  1. kalau saya malah kagum dengan tulisan-tulisan bang david :D

    BalasHapus

wdcfawqafwef