Tips mengatasi macet menulis bagi blogger

Pernahkah mengalami masa di mana pikiranmu buntu, tidak tahu apa yang akan kautulis di bogmu? Jarimu kaku di atas papan ketik, dan kata-katamu musnah, tak bisa muncul satu pun.

Keadaan itu menekan otakmu untuk berpikir keras. Dan hingga sore belum kautemukan gagasan apapun. Kau meraba-raba ide untuk ditulis, bahkan sampai jam tidur tiba. Akhirnya hari itu berlalu tanpa posting blog.

Blogger sejati jengkel saat ia mendapati dirinya tidak menulis dalam sehari. Situasi seperti ini digambarkan sebagai writer’s block, sebuah hambatan menulis yang membuatmu stres. Blank. Tak ada gagasan sama sekali.

Daftar isi (klik untuk loncat)
  1. Turunkan standarmu saat menulis
  2. Bayangkan ceritamu sebelum menulis draf
  3. Berbicara dengan teman sebagai pemanasan
  4. Jangan menulis blog. Tulislah surat
  5. Tulis secepat mungkin selama lima menit
  6. Suruh diam suara cerewet
  7. Pindah tempatmu
  8. Minta teman bertanya
  9. Jangan tulis dari awal

Apakah penulis hebat mengalami writer’s block? Semua orang mengalaminya. Siapa menyangka bahwa skenario film The Shining, pada tiap halamannya, ditulis dengan kalimat “All work and no play makes Jack a dull boy.”

Sebelum menulis posting ini pun, aku dihantam writer’s block. Tapi penyelesaian penyakit menulis ternyata gampang, lebih enteng dari menangani flu yang kauderita tahun lalu. Kenapa tidak aku tulis tentang writer's block itu sendiri?

Di bawah ini adalah strategi yang aku amalkan untuk membunuh writer’s block saat aku terhambat di tengah keyboard. Boleh kaucoba di rumah dan buktikan keampuhannya.

Turunkan standarmu saat menulis. Naikkan standar itu belakangan

Gambar oleh RockinBlue
Nasihat ini penting karena banyak penulis dan blogger menghajati sebuah tulisan yang mengguncang dunia pada saat itu juga. Dalam proses menulis, kau tak perlu bertindak sangat sempurna. Tulislah saja. Matikan dulu fantasimu untuk memenangkan Khatulistiwa Literary Award dan tumpahkan apa yang terisi di kepalamu seliar-liarnya.

Pada proses berikutnya, yakni tahap mengedit, kau melakukan pekerjaan berat yang sesungguhnya. Mungkin kau tertarik membaca postingku tentang hal itu: Tips menulis dan software mengedit tulisan.

Bayangkan ceritamu sebelum menulis draf

Sebelum menulis blog, selalu aku buat draf. Sebelum membuat draf, aku membayangkan apa yang akan kutulis, meriset apa saja yang diperlukan untuk mendukung tulisanku. Aku menulis di kepala sebelum menulis di papan ketik. Selalulah mereka-reka tulisan di kepala sebelum mengetiknya di keyboard jika kau ingin drafmu lancar. Sebab, semestinya kegiatan menulis itu berlangsung jauh sebelum tanganmu bergerak. Itu sama seperti  mengadakan janjian untuk kencan dengan pacar atau untuk pertemuan dengan bos. Pikiranmu merancang dulu apa yang terjadi nanti di sana sebelum kau melaksanakan janjian itu.

Berbicara dengan temanmu sebagai pemanasan

Percayalah, kau bisa menulis dengan suaramu. Jika suatu hari posting blogmu sepi dan idemu mandeg, cobalah ajak temanmu pergi ngopi—satu jam saja. Dan bicaralah dengannya tentang apapun yang mencongol saat itu, selayaknya pembicaraanmu sehari-hari. Sambil melakukan itu, rekam pembicaraan kalian. Setiba di rumah kauputar rekaman itu dan amati apa saja yang bisa kautulis dari percakapan tersebut. Kau menemukan hal-hal menarik, lucu, mengerikan, dan kau perlu menulisnya.

Jangan menulis blog. Tulislah surat

Nasihat yang aneh? Ya, kedengarannya begitu. Ketika kau menulis draf untuk blogmu, seperti saranku di poin pertama, kau menurunkan standarmu dan membiarkan kata-kata berjatuhan begitu saja, tanpa dibagus-baguskan. Seiring kata bermunculan di layar, cobalah membayangkan ini: Engkau menulis memo atau laporan atau proposal atau surat untuk sahabat. Dengan menulis dalam cara itu, kau mengalami sensasi yang berbeda, letusan ide yang mengejutkan.

Tulis secepat mungkin selama lima menit

Banyak blogger menanti terlalu lama untuk menulis, kadang berhari-hari—hanya untuk menerbitkan satu buah artikel. Dia terobsesi menghasilkan tulisan yang membuat pembaca terserang ayan, jadi blogger ini bergerak pelan sekali, memilih-milih kalimat, membagus-baguskan frasa dan kata.

Aku menjalankan sebuah trik ampuh belakangan: menulis secepat-cepatnya. Maksudku secepat-cepatnya adalah kau menulis sekencang yang kau mampu, tanpa menilai bagus atau tidak kalimatnya, berbobot atau tidak isinya, ada ide maupun tak ada ide. Pasang stopwatch dengan waktu lima menit dan jangan berhenti sebelum stopwatch berbunyi, juga jangan menghapus apa yang sudah kauketik. Melajulah saja. Bahkan jika yang muncul di benakmu adalah kalimat “Aku tidak tahu harus nulis apa lagi,” tulis saja kalimat itu.

Mungkin cara ini membuahkan tulisan kosong yang tak ada bobotnya menurutmu. Tapi percayalah, cara tersebut mengajarimu untuk tahu apa yang ada di kepala, apa yang sudah kauketahui tentang subjek yang akan kautulis, dan apa yang belum kauketahui dan butuh dipelajari lagi.

Suruh diam suara-suara cerewet di kepalamu

Gambar oleh Gblor
Saat kecil aku mengalami penyakit mental yang bernama Obsessive Compulsive Disorder (OCD). Penyakit ini memicu penderitanya untuk selalu merasa was-was sehingga ia melakukan sesuatu berulang-ulang untuk memastikan bahwa semuanya sudah pada tempatnya. Ketika mengunci pintu, misalnya, tidak bisa aku menutup hanya sekali. Aku kembali untuk memastikan bahwa ia kukunci. Dan bahkan saat aku tahu nyata-nyata ia terkunci, aku jalan kembali untuk meyakinkan diriku. Aku melangkah bolak-balik bisa sampai lima kali hanya untuk meneguhkan keyakinan itu: betul-betul pintu telah aku kunci. Aku tak sanggup menolak dorongan untuk memeriksa bahwa pintu rumahku aman.

Bagaimana aku melawan penyakit itu? Aku sumpal suara-suara di kepalaku yang  meneror soal pintu. Dalam pikiran aku teriak, “Sudah kututup pintunya. Dan kalaupun belum, aku tak peduli.”

Dalam menulis pun begitu. Tulisanmu terhambat karena ada suara cerewet di kepalamu yang mengkritik habis-habisan: Kurang begini, kurang begitu, kurang enak kata-katanya, kurang tepat kalimatnya dan sebagainya. Suruh diam si cerewet itu dan menulislah dengan senyaman mungkin tanpa gangguan di kepalamu.

Jika writer’s block menyerangmu di rumah, pindahlah

Orang Jawa mempercayai bahwa membalik bantal setelah mimpi buruk akan membawamu ke mimpi lain yang lebih baik. Ada benarnya. Dan ini soal pikiran, memang. Tapi jika kau mengalami kelumpuhan menulis di tempat yang sama, kenapa tidak kaucoba pindah ke tempat yang lain, misalnya ke pantai? Mungkin di sana bisa kautemuakan inspirasi dan ide yang lebih cemerlang. Bukankah menulis bisa di mana saja? Ketika kau mandeg, jangan hanya diam di kursimu, ubah lokasi dudukmu.

Minta teman bertanya

Mudah saja. Telponlah teman dan suruh dia mewawancaraimu seolah kau presiden republik Indonesia atau orang penting yang diburu-buru wartawan. Minta dia menanyaimu dengan pertanyaan yang mengundang respon luas, misalnya:

  • Apa yang terjadi?
  • Apa yang kaupikirkan?
  • Posting apa yang akan kautulis?
  • Apa yang kauinginkan dari posting blogmu bagi pembacamu?
  • Apa yang membuatmu paling terkejut dengan hal ini?
  • Hal menarik apa yang sudah kaupelajari?


Pertanyaan seperti di atas—atau pertanyaan serupa yang dibuat temanmu—membantumu menemukan gagasan-gagasan untuk ditulis, dan pasti kau terkejut betapa mudahnya menemukan ide hanya dari bicara.

Jangan tulis dari awal. Tulis dari mana saja

Misalnya kau menulis posting blog tentang sejarah kampungmu. Tak perlu kau mengurut-urutkan rentetan sejarah dari paling dahulu hinggga ke masa kini. Tulislah dari mana saja. Bahkan bisa kautulis dari ending dulu, lalu tengah, dan baru kemudian ke awal. Tak masalah kau menulis dari manapun karena pada tahap menyunting, kau merombak rentetan itu. Menulis rentet demi rentet membuatmu gelisah karena kau diwajibkan menjejer-jejer kronologis dan membuat timeline.

Strategi di atas, jika kauterapkan dengan khusu, akan menjauhkanmu dari monster yang ditakuti para blogger dan penulis: writer’s block. Dan sekalipun monster itu berada di depan untuk memakanmu, kau tahu bagaimana mengatasinya.

Mengutip atau menyalin tulisan ini diperbolehkan asal menyebut sumber davologi.blogspot.com

2 Responses to "Tips mengatasi macet menulis bagi blogger"

  1. terima kasih sekali bang David , sebelum membaca ini saya benar - benar frustasi tentang apa yg saya tulis setelah postingan ini saya baca perubahan menjadi 360 derajat hehe .
    sangat bermanfaat sekali.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sama-sama, Irfan. Dan selamat menulis.

      Hapus

wdcfawqafwef