Penyakit da Vinci bagi blogger dan penulis

Leonardo da Vinci menerima pesanan melukis Mona Lisa pada 1503. Tiga belas tahun kemudian, ia pindah ke Prancis dan membawa lukisan itu bersamanya, sambil mengerjakannya hingga akhir hayat pada 1519. Siapapun yang melihat karya ini akan menganggapnya sebagai lukisan yang rampung, tapi Leonardo tidak.

Ia merasa tidak merampungkan apapun. Lima puluh tahun kemudian, Giorgio Vasari, pengarang Lives of the Most Excellent Painter, menjelaskan kenapa bisa demikian:

Jelas sekali bahwa Leonardo, dengan pemahamnnya yang mencukupi tentang seni, telah mengerjakan banyak karya namun tak pernah menganggapnya selesai; ia berpikir tangannya tak sanggup mencapai sebagaimana yang ia bayangkan.

Daftar isi


Leonardo tak pernah menyelesaikan apapun karena ia mengira tak bisa memperoleh kesempurnaan. Kita semua juga tahu bahwa ada blogger atau penulis, termasuk kita sendiri, yang tak bisa menyelesaikan tulisan. Mereka macet menulis. Akar penyebabnya adalah obsesi da Vinci yang merasuki mereka.

Kurang gagasan

Pertama-tama, blogger tak pernah merampungakn tulisan sebab mereka tidak memulai. Mereka punya gagasan yang menjanjikan tapi tak bisa membayangkannya sebagai barang yang kelak akan sempurna atau kelak dapat disempurnakan. Mereka bergulat dengan gagasan tapi mereka miskin detil dan data-data untuk menunjangnya. Bagaimana kau mengatasi itu? Kau lanjut saja menulis dan mengumpulkan informasi sambil berjalan.

Murray Kempton, jurnalis Amerika, pernah menerima tugas menulis dengan ide gila dari editornya. Ia lari ke jalan dan bicara dengan masyarakat. "Ketika aku membicarakan tentang ide tersebut dengan orang lain, ternyata idenya lumayan bagus," kata dia.

Pengorganisasian yang cacat

Baru-baru ini, Don Fry, seorang pelatih menulis Amerika, melakukan pelatihan terhadap seorang novelis yang memiliki pembuka dan penutup cerita, tapi tak punya bagian tengah. Don meminta ia menceritakan plotnya dan ia menanggapi itu dengan sketsa karakter. Don mengatakan bahwa sang novelis kurang kata kerja. Dia harus buat karakternya melakukan sesuatu, sebagaimana semestinya sebuah plot. Organisasi karakter yang ia bikin hanyalah daftar. Tanpa aksi-aksi yang menghubungkan antar plot, ia tak akan punya struktur cerita.

Menata struktur biasanya dilakuan dengan dua cara: "merencanakan" vs "menulis seketemunya." Seorang perencana memetapkan apa-apa yang ia mau ceritakan, membuat daftar outline untuk posting blog dan naskah ceritanya. Sementara seorang penulis seketemunya akan menulis dengan temuan-temuan yang ia peroleh saat berjalan. Tipe ini mengetik banyak-banyak dan menata ulang setelahnya agar tulisannya nyambung. Kedua metode ini sama-sama bekerja.

Tapi terlalu menata-nata tulisanmu juga akan membuatmu tak rampung-rampung. Para perencana membuat outline konyol yang gagal, dan ia terus mengetik. Sambil itu, ia bertanya-tanya apanya yang salah, tanpa memeriksa outline yang ia buat.

Penulis seketemunya mengetik apa saja yang ada di pikirannya tanpa mengkhawatirkan gagasan. Pada akhirnya hasil tulisannya miskin informasi yang diperlukan pembaca.

Dan banyak lagi penulis yang tak menyelesaikan apapun karena mereka tidak menata apapun. Mereka tak pernah tahu apa yang mereka ingin sampaikan dan bagaimana cara menyampaikan itu.

Draf, draf dan draf lagi

Draf terkadang adalah musuh bagi blogger dan penulis. Banyak penulis tak menghasilkan tulisan yang ia inginkan sebab mereka berusaha mati-matian demi sesuatu yang sebenarnya keliru.

Mereka berupaya membuat kalimat pertama menjadi sedemikian sempurna, sehingga para blogger dan penulis itu tak merampungkan draf . Mereka percaya bahwa tak ada yang mau baca tulisannya jika ia tidak membuat kalimat pertamanya semenakjubkan mungkin, kalimat yang menyebabkan pembaca ayan seketika. Mereka berusaha menulis teras cerita selevel pemenang Pulitzer Prize. Dan mereka juga percaya bahwa mereka tak dapat menulis kalimat kedua yang baik  jika mereka tidak membuat kalimat pertama yang sempurna.

Lalu pada saat mereka betul-betul mengetik kalimat pertama, kalimat itu pun tak sesuai yang diinginkan. Kenapa tak sesuai keinginan? Karena mereka mengajukan pertanyaan yang salah: "Teras cerita apa yang sempurna?" Pertanyaan seperti itu tak mengandung isi. Pertanyaan yang lebih baik seharusnya begini, "Apa yang harus kusampaikan pada pembaca?"atau yang lebih baik lagi, "Tentang apakah tulisanku ini?"

Sementara itu, beberapa penulis menghapus kalimat pertama dan memulai lagi kalimat baru yang lebih keren. Seorang reporter bahkan ada yang  menulis 40 kalimat pembuka sebelum ia memilih satu yang akan ia pakai. Reporter lainnya menulis kalimat awal dan mengedit-edit terus kalimat itu hingga mulus. Lalu ia menulis kalimat berikutnya, dan kalimat berikutnya akan membuat kalimat pembuka terasa tak sempurna. Maka ia merevisi lagi. Setiap kalimat berikutnya yang ia tulis akan membawa kepada revisi terhadap kalimat pertama. Dalam sebuah posting berisi 25 kalimat, ia mengedit kalimat pertama lebih dari 25 kali. Dan masih saja tidak membaik.

Blogger dan Penulis tidak selesai-selesai membuat draf karena mereka ingin setiap kalimat yang mengguncang dunia. Mereka tidak memisahkan draf dan revisi sebagai tahap yang berbeda. Padahal dengan membuat tahapan tersebut, mereka dapat mengerjakan lebih cepat.

Setiap tulisan dapat dibikin bagus jika kau meluangkan waktu untuk revisi dan konsultasi dengan teman dan kerabat atau dengan penyunting ramah di sebelah rumahmu. Tentu tak ada tulisan yang betul-betul sempurna.

Leonardo berpikir ia tak pernah mencapai kesempurnaan, tapi ia sesungguhnya telah mendekatinya. Maka engkau pun bisa, jika kau tidak teralalu terobsesi terhadapnya.

0 Response to "Penyakit da Vinci bagi blogger dan penulis"

Posting Komentar

wdcfawqafwef